Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menjadi saksi lahirnya pemikiran besar di bidang sains. Pada Kamis (4/9), Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D., dosen dari Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kimia. Prof. Tutik termasuk 547 guru besar aktif di UGM dan termasuk 54 guru besar aktif dari 78 guru besar yang dimiliki FMIPA.
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif”, Prof. Tutik membedah potensi besar senyawa heterosiklik pirazolina sebagai solusi mutakhir bagi tantangan di sektor kesehatan dan teknologi deteksi sensor.
Prof. Tutik menekankan bahwa sintesis organik bukan sekadar prosedur laboratorium teknis, melainkan sebuah landasan fundamental dalam membangun molekul modern. Ia menganalogikan bidang ini sebagai “architecture of the molecular world”.
“Sintesis organik menuntut kreativitas tinggi dalam perancangan molekul. Layaknya seorang arsitek, kita harus memahami interaksi antaratom secara mendalam untuk menghasilkan struktur yang presisi dan fungsional,” jelasnya.
Melalui pendekatan sintesis yang terukur, para peneliti dapat memodifikasi struktur molekul untuk mengoptimalkan aktivitas biologis. Hal ini memungkinkan pengembangan obat yang memiliki selektivitas tinggi terhadap sel target—seperti sel kanker—sekaligus meminimalkan dampak negatif atau toksisitas pada sel normal.
Fokus riset Prof. Tutik tertuju pada senyawa pirazolina, sebuah struktur cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Keunikan sifat elektronik senyawa ini memberikan peluang luas dalam dunia farmakologis, di antaranya:
- Terapi Kanker yang Lebih Efektif: Menghadapi tantangan resistensi obat dalam kemoterapi, risetnya membuktikan bahwa substituen pendonor elektron (seperti kloro dan metoksi) memiliki aktivitas sitotoksik yang menjanjikan dalam melawan berbagai jenis sel kanker.
- Teknologi Kemofluorosensor: Selain obat, sifat fluoresensi alami pirazolina menjadikannya kandidat ideal sebagai alat deteksi (sensor) yang sensitif. Aplikasi teknologi ini sangat luas, mencakup diagnosis medis hingga pemantauan kualitas lingkungan.
Meski memiliki prospek cerah, Prof. Tutik mengakui bahwa tantangan ke depan tetap ada, terutama dalam hal optimasi selektivitas dan pemahaman mendalam mengenai mekanisme interaksi molekuler guna menyempurnakan inovasi ini.
Pengukuhan dan orasi ilmiah Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih ini mencerminkan komitmen departemen dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain: SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Penelitian mengenai senyawa pirazolina sebagai agen antikanker berkontribusi langsung pada pengembangan terapi medis yang lebih aman, efektif, dan terjangkau untuk menekan angka kematian akibat penyakit tidak menular, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Pencapaian gelar Guru Besar merupakan bukti nyata keunggulan akademik di lingkungan Departemen Kimia UGM dalam mencetak pakar yang berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan global, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Inovasi dalam sintesis organik dan pengembangan kemofluorosensor mendorong hilirisasi riset kimia menuju industri farmasi dan teknologi lingkungan yang lebih maju, dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Penggunaan sensor selektif untuk pemantauan lingkungan membantu memastikan pengelolaan bahan kimia dan limbah dapat terpantau secara lebih akurat demi menjaga ekosistem.
Penulis : Mokhammad Fajar Pradipta
Editor : Mokhammad Fajar Pradipta





